SHOLAT JAMA’ DAN QOSHOR

www.fiqihsunah.com

fiqihsunah.com - Shalat jama’ maksudnya adalah mengumpulkan dua waktu shalat dalam satu waktu. Sedangkan shalat qoshor berarti meringkas atau memendekan bilangan rokaat shalat yang empat rokaat menjadi dua rokaat, sholat Qoshor dalam referensi fiqih disebut juga sholat safar, karena dilakukan dalam keadaan safar.
    Silahkan dibaca juga :


A. Pengertian Sholat Jama’ dan Qoshor
Shalat jama’ maksudnya adalah mengumpulkan dua waktu shalat dalam satu waktu. Sedangkan shalat qoshor berarti meringkas atau memendekan bilangan rokaat shalat yang empat rokaat menjadi dua rokaat, sholat Qoshor dalam referensi fiqih disebut juga sholat safar, karena dilakukan dalam keadaan safar.

B. Dalil Sholat Jama’ dan Qoshor
Disebut dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 101:
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqoshor sholat, jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (An-Nisa: 101)

Disebutkan juga di hadits shohih dari Aisyah radhiyallahu’anha;
قد فرضت الصلاة ركعتين ركعتين بمكة فلما قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة زاد مع كل ركعتين ركعتين إلا في المغرب فإنها وتر النهار، وصلاة الفجر لطول قراءتها، وكان إذا سافر صلى الصلاة الاولى (أي التي فرضت بمكة)
“Diwajibkan sholat dua rokaat dua rokaat di Mekah, setelah Rasulullah sholallahu’alaihi wasallam tiba di Madinah, di tambah dua rokaat dua rokaat (penj. Dzuhur dan Ashar menjadi empat rokaat), kecuali maghrib (tetap tiga rokaat), karena witirnya siang, dan sholat shubuh (tetap dua rokaat), karena bacaan ayatnya (disunahkan) panjang, dan jika dalam keadaan safar, kembali ke awal, yaitu yang diwajibkan saat di Mekah.” (HR. Ahmad, Baihaqi, Ibnu Hiban dan Ibnu Khuzaimah)

Ibnul Qoyim berkata, Rasulullah sholallahu’alaihi wasallam selalu mengqoshor sholatnya saat bepergian atau safar. Dan para ulama sepakat tentang dalil menqoshor sholat ini.
Sehingga para ulama fiqih seperti Imam Malik, Imam Hanafi dan Imam Syafi’i menyebutkan hukum mengqoshor sholat saat safar yaitu sunah muakadah.

C. Syarat diperbolehkan Qoshor

1. Syarat utama diperbolehkan Qoshor yaitu safar, sehingga para ulama fiqih menyebutkan jarak safar yaitu 3 farsakh sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih riwayat Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Daud dan Baihaqi,
عن يحيى بن يزيد قال: سألت أنس بن مالك عن قصر الصلاة فقال أنس: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا خرج مسيرة ثلاثة أميال أو فراسخ يصلي ركعتين
“Dari Yahya bin Yazid berkata, aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang sholat Qoshor, Anas berkata: Rasulullah sholallahu’alaihi wasallam jika keluar safar dengan jarak 3 farsakh atau 3 mil, beliau sholat dua rokaat.”

Disebutkan dalam kitab Fiqih Sunah 3 farsakh yaitu 1 farsakh = 5541 meter (5,5 Km), sedangkan 3 mil yaitu 1 mil = 1748 meter. Namun, karena ada dalil lain yang menyebutkan Rasulullah sholallahu’alaihi wasallam pergi untuk menguburkan seseorang ke Baqi (jaraknya sekitar 3 farsakh), namun beliau tidak mengqoshor sholat. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat mengenai jarak ini,  diantaranya;
• Jumhur Ulama, termasuk Imam Syafi'i, 16 Farsakh atau 88,6 Km
• Abu Hanifah, 3 hari perjalanan (dengan unta/jalan kaki)
• Ibnu Taimiyah, tidak ada batasan jarak, menurut kebiasaannya (‘urf)
• Fiqih Sunah, Syekh Sayid Sabiq, minimal 3 Farsakh atau 16,6 Km

2. Kapan mulai disebut safar? Menurut Jumhur Ulama, mulai disebut safat ketika mulai keluar untuk bepergian, namun disebutkan juga dalam Fiqih Sunah, jika sudah niat safar maka meskipun masih di lokasi sudah bisa mengqoshor sholat, seperti yang disebutkan dalam hadits Rasululloh shollallahu ‘alahi wa sallam, dari Muadz bin Jabal bahwa Rasululloh shollallahu ‘alahi wa sallam apabila beliau melakukan perjalanan sebelum matahari condong (masuk waktu sholat zuhur), maka beliau mengakhirkan sholat zuhur kemudian menjamaknya dengan sholat ashar pada waktu ashar, dan apabila beliau melakukan perjalanan sesudah matahari condong, beliau menjamak sholat zuhur dan ashar (pada waktu zuhur) baru kemudian beliau berangkat. Dan apabila beliau melakukan perjalanan sebelum magrib maka beliau mengakhirkan sholat magrib dan menjamaknya dengan sholat isya, dan jika beliau berangkat sesudah masuk waktu magrib, maka beliau menyegerakan sholat isya dan menjamaknya dengan sholat magrib. (Hadits shahih Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

3. Berapa hari batasan safar? Disebutkan dalam fiqih sunah ada beberapa pendapat, Imam Syafii dan Imam Malik membatasi 4 hari, Imam Abu Hanifah membatasi 15 hari, dan Aisyah radhiyallahu’anha berkata, selama hari yang telah ditentukan atau diniatkan untuk safar, maka jika ada penambahan hari dari yang sudah diniatkan maka tidak termasuk safar.

D. Syarat diperbolehkannya menjama’ Sholat 
Sebab-sebab dibolehkan menjamak sholat sebagai berikut,

1. Menjamak sholat di Arofah dan Muzdalifah. 
Jumhur ulama sepakat, saat jamaah haji sedang di Arafah menjama’ sholat Zhuhur dan Ashar dilakukan di waktu Zhuhur, dan saat di Muzdalifah menjama’ maghrib dan isya di kerjakan di waktu Isya.

2. Menjamak sholat ketika safar. Sebagaimana telah dijelaskan dipembahasan sebelumnya tentang ketentuan safar. Dan boleh mendahulukannya atau mengakhirkannya. Seperti disebutkan dalam hadits berikut,

فعن معاذ أن النبي صلى الله عليه وسلم كان في غزوة تبوك إذا زاغت الشمس قبل أن يرتحل جمع بين الظهر والعصر وإذا ارتحل قبل أن تزيغ الشمس أخر الظهر حتى ينزل للعصر، وفي المغرب مثل ذلك، إن غابت الشمس قبل أن يرتحل جمع بين المغرب والعشاء، وإن ارتحل قبل أن تغيب الشمس أخر المغرب حتى ينزل العشاء ثم نزل فجمع بينهما
“dari Muadz bin Jabal bahwa Rasululloh shollallahu ‘alahi wa sallam apabila beliau melakukan perjalanan sebelum matahari condong (masuk waktu sholat zuhur), maka beliau mengakhirkan sholat zuhur kemudian menjamaknya dengan sholat ashar pada waktu ashar, dan apabila beliau melakukan perjalanan sesudah matahari condong, beliau menjamak sholat zuhur dan ashar (pada waktu zuhur) baru kemudian beliau berangkat. Dan apabila beliau melakukan perjalanan sebelum magrib maka beliau mengakhirkan sholat magrib dan menjamaknya dengan sholat isya, dan jika beliau berangkat sesudah masuk waktu magrib, maka beliau menyegerakan sholat isya dan menjamaknya dengan sholat magrib.” (Hadits shahih Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

3. Menjamak sholat ketika hujan badai. 
Dijelaskan dalam beberapa hadits bahwa Rasululloh shollallahu ‘alahi wa sallam menjama’ sholat magrib dan isya disaat hujan badai. Diantaranya hadits berikut,
أن النبي صلى الله عليه وسلم جمع بين المغرب والعشاء في ليلة مطيرة
“Bahwasannya Rasulullah Rasululloh shollallahu ‘alahi wa sallam menjama’ sholat maghrib dan isya ketika hujan badai dimalam hari.” (HR Bukhari)
Dari sejumlah hadits tersebut para ulama fiqih, diantaranya Imam Syafi’i dan imam Malik berpendapat di bolehkannya jama’ taqdim saja sholat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya dengan syarat jika ada hujan badai.

4. Menjamak sholat karena sakit. 
Para ulama fiqih seperti Imam Ahmad, Imam Syafii, Imam Nawawi juga Al-Mughni berpendapat bolehnya menjama’ sholat bagi yang sakit, karena lebih berat sakit, jika dibanding dengan sebab bolehnya jama’ karena hujan.

5. Menjamak karena suatu kebutuhan atau kejadian darurat (force majeur). 
Pendapat ini di dukung imam Nawawi dan muridnya Imam Syafii. Seperti disebutkan dalam hadits shohih berikut dari Ibnu Abas,
جمع رسول الله صلى الله عليه وسلم بين الظهر والعصر، والمغرب والعشاء بالمدينة في غير خوف ولا مطر
“Rasulullah menjama’ sholat Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya di kota Madinah bukan karena kondisi takut atau bukan juga karena hujan.” (HR. Muslim)

E. Tata cara Sholat Jama’ dan Qoshor
Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih Muadz bin Jabal diatas, tata cara sholat Jama’ dan Qoshor sebagai berikut,
1. Sholat zuhur hanya boleh dijamak dengan sholat ashar dan sholat magrib hanya boleh dijamak dengan sholat isya.
2. Sholat yang boleh diqoshor hanya sholat yang empat rokaat (rubaiyyat) menjadi dua rokaat yaitu Zhuhur, Ashar dan Isya, adapun magrib dan shubuh tetap
3. Sholat subuh tidak boleh untuk dijamak, karena tidak adanya dalil yang membolehkan hal ini.
4. Kedua sholat yang dijamak boleh dikerjakan pada salah satu dari kedua waktu sholat tersebut.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SHOLAT JAMA’ DAN QOSHOR "

Post a Comment

Silahkan tulis komentar atau pertanyaan disini atau via email konsultasi@fiqihsunah.com